Gereja sebagai Koinonia adalah tubuh Kristus. Di dalam tubuh Kristus, semua orang menjadi satu, dan satu di dalam semua oleh Kristus (1 Kor.12:26). Persekutuan koinonia itu dialaskan atas dasar Firman Allah, Baptisan dan Perjamuan Kudus. Dengan dasar itu pulalah anggota gereja saling memperdulikan dan dikumpulkan bersama dalam Perjamuan Kudus sebagai komunitas yang kudus secara nyata. Persekutuan koinonia itu bukan hanya merupakan perkumpulan begitu saja, melainkan persekutuan yang bersifat soteriologis (keselamatan). Oleh Roh Kudus, gereja bergerak dinamis menuju akhir, yaitu penggenapan Hari Tuhan (parusia).
Di dalam persekutuan Koinonia ibadah (workship) berperan merefleksikan kekudusan persekutuan. Ibadah menjadi pusat penyampaian syukur dan terima kasih kepada Tuhan Allah atas seluruh bekat yang melimpah dalam seluruh sisi kehidupan komunitas gereja, misalnya perkawinan, pekerjaan, kesehatan, peningkatan ekonomi, keberhasilan, keselamatan dari mara bahaya, dsb. Semua berkat ini tentunya meneguhkan iman yang patut kita syukuri. Oleh sebab itu, ibadah juga harus merefleksikan komitmen hidup melayani Tuhan dengan perkataan dan tindakan setiap hari.
Mutu persekutuan haruslah senantiasa dipelihara dan ditingkatkan seiring tantangan dan kecenderungan jaman (nurturing). Iman itu bukanlah sekali dan untuk seterusnya, nmun merupakan proses dalam kehidupan seluruh warga gereja sesuai kebutuhan kategori usia masing-masing; anak-anak, remaja/pemuda, dewasa dan lansia (Ef.4). Bentuk-bentuk diskusi, Penelaahan Alkitab (PA), retreat dan lain-lain, haruslah dikembangkan secara kreatif. Semua kegiatan harus bertujuan membantu warga memahami Alkitab demi pertumbuhan iman yang sehat sehingga mampu menyingkapi tantangan jaman ditengah realita kehidupan; politik, ekonomi, kekerasan, hak azasi, gender, ekologi, globalisasi dan sebagainya.
Dengan pemahaman Firman Tuhan dan penghayatan iman yang benar setiap warga sadar akan dirinya sebagai bagian integral gereja yang memiliki panggilan untuk mendukung misi gereja melalui talenta dan charisma yang dimilikinya (imamat am orang-orang percaya). Perlu kita sadari tanpa mendalami pendidikan Kristen tersebut, persekutuan gereja sebagai tubuh Kristus (koinonia) akan beralih menjadi komunitas politis (political community).
Marturia (Bersaksi)
Ibadah koinonia yang berpusat atas dasar Baptisan, Firman Tuhan dan Perjamuan Kudus bukan bertujuan hanya untuk persekutuan itu secara eksklusif tetapi harus melahirkan komitmen untuk memberitakan dan menyaksikan berita keselamatan kepada semua mahluk. Pemberitaan dan kesaksian itu harus dilakukan oleh orang percaya baik secara individu maupun sebagai persekutuan.
Kita dipanggil oleh Tuhan Yesus secara individu maupun persekutuan untuk melaksanakan misi Tuhandi bumi ini. Yesus Kristus mati di kayu salib – kita percaya Tuhan Allah dating ke dunia ini di dalam AnakNya Yesus Kristus yang telah mati untuk menyelamatkan kita dan dunia ini. Oleh sebab itu tugas pemberitaan (marturia) itu harus dilakukan oleh persekutuan gereja baik individu maupun persekutuan masing-masing. Setiap orang sadar akan kemuridannya (discipleship) dalam perjalanan hidupnya. Sekali kita menyadari hal itu maka kita harus memiliki komitmen dan kesetiaan sebagai murid Yesus Kristus. Dengan kesadaran sedemikian persekutuan menjadi alat yang kuat untuk mengkominikasikan berita keselamatan Kristus.
Diakonia (Melayani)
Pemberitaan dan kesaksian itu tidaklah selalu dilaksanakan dengan kata-kata tetapi juga dengan perbuatan atau pelayanan diakonia. Perlu kita ingat, ada kalanya suara perbuatan lebih nyaring gaungnya dari pada perkataan. Dengan tindakan maka Injil juga dapat diberitakan dan di dengar oleh orang-orang tuli.
Barangkali di suatu konteks tertentu gereja sulit melakukan pemberitaan firman Tuhan (khotbah) karena peraturan-peraturan Negara terkait, dengan tujuan membungkam gereja akan berita keselamatan itu. Akan tetapi dengan pelayanan diakonia gereja tidak dapat dibungkam sebab persekutuan koinonia memiliki seluruh berkat dalam kehidupannya yang dapat dibagi kepada orang lain dalam nam Yesus Kristus.
Perkataan, kehidupan dan tindakan diakonia yang kita berikan kepada orang lain atas nama Tuhan Yesus Kristus adalah juga marturia. Maka dari itu, diakonia adalah bagian integral dari misi Gereja. Marturia dan diakonia adalah dua sisi dari mata uang yang sama dan merupakan misi gereja yang mendasar.
Pelayanan diakonia sering dipahami hanya sebatas konsep caritas, membantu para janda, yatim piatu, fakit miskin demi kesejahteraannya. Sebenarnya, gereja dalam pelayan diakonia harus mencakup : pelayanan diakonia mencakup upaya pemahaman akar penyebab keprihatinan social sekaligus mengembangkan prakarsa pemberdayaan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup yang layak.
Hanya dengan pemahaman pelayanan diakonia sedemikian gereja dapat berfungsi sebagai agen transformasi ditengah masyarakat sebagai pewujudan karya keselamatan Yesus Kristus. Gereja menjadi garam dan terang dunia.Amin.
Gereja sebagaimana kita kenal apakah dalam situasi nasional atau di persekutuan Kristen setempat terkadang sulit untuk kita dapat melihat persamaannya dengan citra Kristus, tetapi kendatipun banyak kelemahan gereja dipersiapkan untuk menjadi agung dan indah dalam setiap kesaksian dan palayanannya. Itu berarti ada komitmen orang percaya untuk sungguh-sungguh kepada persekutuan dan ada kesediaan untuk ikut menanggung penderitaan demi Injil dan demi pertumbuhan gereja itu sendiri. Visi itu akan menguatkan tekad kita untuk memberikan waktu dan milik kita, untuk mengarahkan daya dan doa, dan untuk berkarya sepanjang waktu yang Tuhan berikan. Untuk itu kita pun harus memahami ketika hendak mencapai visi itu gereja pun harus nampak dalam panggilannya. Ada 3 tugas panggilan gereja yang disebut dengan tri tugas gereja.Untuk memahami tri tugas gereja maka akan kita mulai dengan makna dari pemahaman gereja.
A. Latar Belakang dan pengertian
Gereja yang hidup adalah gereja yang bersaksi tentang Yesus Kristus di dunia ini (band Kis 1: 8). Gereja terpanggil untuk melaksanakan amanat agung Kristus (Mat 28:16-20; Markus 16:15).
Menjadi saksi Kristus adalah tugas gereja dan warganya yang berlaku sepanjang masa dan bukan hanya bersaksi (Marturia), tapi juga bersekutu (Koinonia) dan melayani (Diakonia). Inilah yang disebut tri tugas gereja. Gereja terpanggil untuk memberitakan berita kesukaan dari Allah bagi semua orang agar percaya dan diselamatkan. Gereja harus terbuka, dinamis,dialogis pada situasi perkembangan di masyarakat dengan sikap positif,kristis,kreatif dan realistis. Gereja kelihatan sebagai gereja apabila gereja tersebut nampak sebagai satu segitiga sama sisi yang terdiri dari segi persekutuan, kesaksian dan pelayanan yang ketiganya tidak dapat dipisahkan.
1. Koinonia (bersekutu)
Koinonein artinya bersekutu
Koinonos artinya teman,sekutu
Koinonia artinya persekutuan.
1. Mengambil bagian bersama-sama dengan orang lain dalam sesuatu.
Lukas 5 :10 : waktu Tuhan Yesus menyuruh murid-murid menjala ikan, maka mereka melaksanakan perintah Tuhan. Mereka mendapat banyak ikan. Karena bayaknya mereka semua harus mengambil bagian dalam hal menarik jala. Disini koinonia sebagai persekutuan para pekerja. Dalam I Kor 10:16 – arti persekutuan (koinonia) adalah mengambil bagian dalam penderitaan dan kematian Yesus Kristus didalam persekutuan Perjamuan Kudus.
2. Memberi bagian kepada seseorang
Sebagai contoh untuk memahami kononia dalam lingkup ini, Filipi 4:15 (baca) kata “mengadakan perhitungan” adalah terjemahan dari kata koinonein dalam arti memberi bagian. Paulus memberi jemaat filipi bagian dalam mengabarkan Injil,sedangkan jemaat Filipi tanpa diminta memberi Paulus bagian untuk penghidupannya. Itulah salah satu segi dari persektuan yaitu Saling memberi bagian kepada orang lain.
3. Koinonia sebagai Persekutuan penuh (absolut)
Dalam Galatia 2:9, digambarkan bahwa paulus dan Bernabas dengan berjabatan tangan sebagai tanda persekutuan diterima secara penuh dalam persekutuan yang dijadikan oleh iman bersama kepada Kristus. Tanda hubungan erat antara kedua belah pihak, bahwa mereka bersekutu dalam Kristus.
Jadi koinonia (persekutuan) mempunyai dasar dan tujuan yang berasal dari Yesus Kristus. Dasar dan tujuan ini tidak dapat diganti dengan dasar dan tujuan yang lain.jikalau persekutuan ini menganti dasar, yang sudah diletakkan oleh dan di dalam Yesus Kristus maka persekutuan ini kehilangan hakekatnya dan secara azasi bukan persekutuan (koinonia) lagi. Koinonia adalah persekutuan jemaat di dalam Kristus, walaupun banyak anggota namun membentuk satu tubuh Kristus. Di dalam Koinonia ini kita tidak hanya sekedar bersekutu, tetapi kita mengambarkan Injil Kerajaan Allah melalui perkataan / kesaksian (Marturia) maupun perbuatan /pelayanan (Diakonia) dimana saja kita berada.
Koinonia sebagai Persekutuan Etis
Berasal dari bahasa Yunani : Marturia = kesaksian
Marturein = bersaksi
Marturein dalam Perjanjian Baru memberi arti antara lain:
1.memberi kesaksian tentang fakta atau kebenaran (Lukas 24:48 : Matius 23:31)
2. memberi kesaksian baik tentang seseorang (Lukas 4:22; Ibr 2:4)
3. membawakan khotbah untuk pekabaran Injil (Kis 23:11) disini bersaksi sebagai istilah pengutusan/pekabaran Injil.
Kita yang hidup sekarang ini memang bukanlah saksi mata dari karya penyelamatan Yesus Kristus, tetapi kitalah saksi keyakinan, sehingga kehidupan kitapun harus diwarnai dengan keyakinan itu. Dalam bentuk khotbah kita bisa memberi kesaksian tetapi lebih dari itu kehidupan kita adalah khotbah yang hidup. Allah mengutus anakNya Yesus Kristus, Kristus pun mengutus murid-muridNya kedalam dunia (Yoh 20:21), supaya kabar keselamatan (Injil) diproklamirkan. Tugas ini diberikan Allah kepada setiap orang yang percaya dengan karunia masing-masing, agar dapat diwujudkan dalam perkataan dan perbuatan.
3. Diakonia (Pelayanan)
Berasal dari bahasa Yunani : Kata kerja Diakonein = melayani
Kata benda Diakonia = pelayanan
Kata benda Diakonos = pelayan
1. Diakonein (melayani) dalam Perjanjian Baru
Pandangan Yesus terhadap pelayanan berasal dari titah di dalam PL tentang kasih terhadap sesama manusia.
Diakonein artinya : melayani di meja (selewir)
Dalam PB diakonein mempunyai arti sebenarnya melayani di meja (Lukas 17:8; Yoh 12:2). Disekitar meja sangat terasa perbedaan tingkat antara mereka yang sementara makan yaitu “orang besar” dan mereka yang menanggalkan jubahnya atau orang yang melayani meja. Yesus merubah secara total arti melayani, karena Dia membalikkan hubungan antara melayani dan dilayani (Lukas 22:26-30). Diantara murid-muridNya yang memimpin adalah Yesus yang juga adalah diakonos (pelayan).
Arti kata diakonein sebagai melayani meja diperluas juga dengan pemahaman mengumpulkan bahan makanan, menyiapkan makanan (Kis 6:2).
Diakonein artinya :memperhambakan diri/ mengabdi
Disini artinya diperluas, Yesus menyebut dalam Matius 25:42-44 pelbagai perbuatan seperti memberi makan, minum,memberi penginapan,memberi pakaian, mengunjungi orang sakit dan orang yang berada di penjara, itu diakonein. Diakonein =pelayanan ini adalah maksud dan tujuan orang Kristen terhadap sesama manusia, sekaligus juga menggambarkan bagaimana caranya mengikut Kristus. Dari pandangan yang dasariah ini Yesus menyimpulkan sehubungan dengan sifatNya sendiri menurut Markus 19:43-45 dan matius 20:26-28, bahwa Anak Manusia tidak datang untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberi nyawaNya sebagai tebusan bagi banyak orang.
Diakonein sebagai cara hidup jemaat Kristus.
Dengan apa yang kita pahami dari bahasan diatas menjadi jelas maksud dari melayani di dalam jemaat. Setiap karunia atau kharisma menurut I Petrus 4:10 merupakan pemberian yang dipercayakan kepada setiap orang dengan maksud supaya mereka yang mendapat karunia itu memanfaatkannya dan mengunakan karunia yang Tuhan berikan untuk melayani.
Diakonein sebagai mengumpulkan persembahan/ kolekte
Pelayanan khusus yang mempunyai peranan penting di dalam kehidupan Paulus adalah pengumpulan dan penyerahan kolekte bagi orang kudus di Yeruselem.
(2 Kor 8:19). Pelayanan kasih ini adalah teladan sebagaimana orang Kristen saling memperhatikan dan saling membantu berdasarkan kasih Kristus.
Diakonein sebagai nama untuk pelayanan jabatan khusus.
Dalam I Tim 3:10,13 kata kerja Diakonein dipakai untuk nama jabatan seorang
2. Cara Berdiakonia antara lain :
a. Diakonia sebagai pertolongan secangkir air atas nama Yesus
Ada berbagai cara orang Kristen atau badan-badan gereja atau lembaga Kristen didalam pelayanan pada sesama. Pelayanan ini merupakaan pengaktaan kasih Kristus. (contoh bagi bahan makanan, pakaian, obat dll). Prinsip motivasinya adalah mendemonstrasikan kasih Kristus dalam perbuatan nyata. Pertolongan ini disebut dengan diakonia kharitatif. Teologia secangkir air itu penting dalam rangka diakonia jemaat tetapi itu hanya salah satu unsur saja dalam berdiakonia. Karena pemahaman diakonia itu punya pengertian yang luas. Ketaatan dan kerendahan hati gereja yang terdiri dari persekutuan orang percaya hendaknya terwujud dalam pola penatalayanan dan bukan pola tuan melainkan pola hamba, pola melayani. Yesus menghendaki pelayanan kepadaNya terwujud dalam pelayanan kepada orang-orang yang paling hina, terhadap merekalah gereja melayani.
b. Diakonia dan Pembangunan
Sisi lain diakonia adalah diakonia social yang berupa upaya untuk membangun masyarakat yang bertanggung jawab. Itu berarti menuntut keterlibatan jemaat dalam pembangunan, jadi diakonia adalah pembangunan. Diakonia berarti sikap kritis kenabian gereja untuk memulihkan dan meluruskan arah pembangunan yang keliru dan mengangkat mereka yang tersisihkan dan terlupakan dalam pembangunan. Jadi diakonia bukanlah jalan untuk mencapai sukses.Diakonia adalah pelayanan yang berjalan,berbicara, dan berbuat bersama-sama dengan mereka yang hina. Diakonia adalah belajar sambil berbuat di tengah-tengah kehinaan. Dengan ulasan diatas, kita pun harus mampu untuk memahami tugas panggilan gereja di dalam kehadirannya di dunia ini yakni Koinonia, Marturia dan Diakonia. Ketiganya saling behubungan satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan. Tugas yang satu akan menjadi sempurna ketika berada di dalam keterkaitannya dengan tugas yang lain, begitu juga sebaliknya. Kononia sebagai persekutuan yang hidup harus menjalankan peran marturia dan diakonianya. Tugas dan panggilan gereja meliputi Koinonia (persekutuan), Marturia (Kesaksian), dan Dikonia (Pelayanan)
