Senin, 24 Maret 2014

TUGAS DAN PANGGILAN GEREJA


NAMA : ELIYONA BAENE
STT APOLLOS 

  

1.    Pelayanan merupakan bagian hidup dari setiap anggota GIII, yang dengannya seluruh Tubuh diikat menjadi satu, dan membangun diri dalam kasih. Karenanya setiap karunia yang ada dalam kehidupan Jemaat wajib dikenali dan dikembangkan semaksimalnya, dalam bimbingan Hamba-hamba Tuhan dan Majelis GIII, dan diarahkan kepada kedewasaan rohani untuk pelayanan Tubuh Kristus baik ke dalam maupun ke luar.

2.    Pelayanan dilakukan oleh setiap bagian dalam Tubuh Kristus sesuai dengan karunianya masing-masing.



Tugas Gereja KOINONIA

GIII melaksanakan tugas gereja KOINONIA sbb:

1.   Kegiatan, yaitu kegiatan pelayanan ibadah berupa:
a.   Ibadah Umum Jemaat:
-          Ibadah Minggu Umum
-          Ibadah Sakramen Gereja: Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus
-          Ibadah Perayaan Tahun Kristen: Ibadah Tutup Tahun / Tahun Baru, Ibadah Jumat Agung, Ibadah Paskah, Ibadah Kenaikan, Ibadah Pentakosta, Ibadah Natal.
-          Ibadah Kebaktian Kebangunan / Penyegaran Rohani
b.   Ibadah Kategorial
-          Ibadah Keluarga
-          Ibadah Kaum Bapak/Ibu
-          Ibadah Pemuda
-          Ibadah Remaja
-          Ibadah Sekolah Minggu / Anak-anak
c.   Ibadah Insidental
-          Ibadah Pengucapan Syukur
-          Ibadah Pertunangan
-          Ibadah Pernikahan
-          Ibadah Penghiburan
-          Ibadah Pemakaman
-          Ibadah Pentahbisan Pejabat gereja dan Majelis Jemaat.
d.Doa dan Pujian
-     Persekutuan Pendoa Syafaat.
-     Kebaktian Pujian dan Doa
e.Tatacara Pelaksanaan Ibadah-Ibadah ditetapkan dan diatur dalam Tata-Ibadah Gereja yang disahkan oleh Dewan Gereja Pusat.

2.   Pelayanan Sakramen
Yang dimaksud dengan Sakramen dalam pengakuan GIII adalah Sakramen Baptisan Kudus dan Sakramen Perjamuan Kudus.
a.      Pelaksanaan Pelayanan Sakramen
Pelayanan Sakramen dilaksanakan oleh Gembala Jemaat. Dalam situasi khusus, dapat dilaksanakan oleh Pejabat Gereja, yang ditunjuk oleh Majelis Inti/Harian GIII.
b.      Sakramen Baptisan Kudus
b.1. GIII melaksanakan Baptisan Kudus dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, dengan menggunakan air.
b.2. GIII menerima dan melaksanakan Baptisan dengan teknis Selam dan Percik.
b.3. GIII menerima dan melaksanakan Baptisan, baik kepada anak-anak maupun kepada orang dewasa.
b.4. Mereka yang menerima Baptisan pada masa Anak-anak, selanjutnya berada dibawah bimbingan orang tuanya.
b.5.Mereka yang telah mendapat Pelayanan Sakramen Baptisan Kudus, diberikan Surat yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah dibaptis di GIII, yang dikeluarkan oleh Majelis GIII.
b.6.Bagi Jemaat yang memilih untuk melaksanakan Penyerahan Anak sebagai pengganti Sakramen Baptisan anak, akan diberikan Surat Tanda Penyerahan Anak. Selanjutnya anak tersebut berada dibawah bimbingan orangtuanya. Jika anak yang bersangkutan, suatu saat, secara pribadi menyadari kebutuhannya akan uluran tangan Tuhan, serta mau bertobat dan menerima Yesus secara pribadi, maka Gereja akan melayani dengan Sakramen Baptisan Kudus.

c.      Sakramen Perjamuan Kudus
c.1. GIII melaksanakan Perjamuan Kudus berlandaskan Firman Tuhan, dengan menggunakan Roti dan Anggur sebagai peringatan akan Kristus.
c.2. Yang dapat menerima Pelayanan Sakramen Perjamuan Kudus adalah anggota GIII dan anggota tamu yang telah mengalami Pembaharuan hidup, dan yang tidak sedang menjalani Disiplin Gereja.
c.3. Perjamuan Kudus dilaksanakan satu kali dalam sebulan.
c.4. Bagi mereka yang karena hal tertentu tidak memungkinkan untuk hadir secara pribadi dalam Ibadah Perjamuan Kudus di Gereja, maka sesuai dengan permintaannya, Gereja akan melayani dengan mengutus Hamba Tuhan untuk melayani yang bersangkutan.

3.    Sidi dan Peneguhan Sidi
a.                Sebelum diakui sebagai jemaat dewasa (konfirmasi), diwajibkan mengikuti pelayanan Katekisasi minimal enam bulan dan dievaluasi.
b.                Evaluasi mendasarkan diri pada ujian serta kesiapan untuk Pengakuan Iman.
c.                 Bagi yang akan melaksanakan pernikahan diwajibkan membuktikan diri telah mengikuti Sidi.
d.                Jika di 3b di atas ternyata belum disidi agar mengikuti sidi dan evaluasi sebelum Peneguhan Sidi.


Pasal 3

Tugas Gereja Marturia

GIII dalam memenuhi panggilannya sebagai bagian dari Tubuh Kristus yang diutus ke dalam dunia, melaksanakan Pelayanan Misi dan Pekabaran Injil.

1.   Pelayanan Misi: Merupakan pelayanan Integral Gereja Tuhan di dalam dan kepada dunia ini. Gereja sebagai Duta Kristus memberikan sentuhan kepada seluruh aspek hidup manusia, memberikan makna hidup sesungguhnya dan cara hidup yang berkenan kepada Penciptanya. Untuk itu, GIII mewujudkan Pelayanan Misinya dengan cara:
a.       Menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga Misi yang ada
b.       Mendukung Pelayanan di ladang Misi tertentu yang telah disepakati bersama untuk diadopsi dalam jangka waktu tertentu.
c.       Mengumpulkan Persembahan Misi dari Jemaat, yang kemudian disalurkan ke ladang Misi yang membutuhkannya sesuai dengan kesepakatan bersama, yang ditetapkan oleh Rapat Majelis GIII.
d.       Mengadakan Seminar Misi untuk meningkatkan dan memperluas wawasan misi jemaat.
e.       Mengadakan Kelompok Doa Misi untuk mendukung Pelayanan Misi.
f.        Sebagai salah satu lembaga yang dipakai oleh Tuhan untuk mengutus Misionaris ke ladang misi lintas budaya.

2.   Pelayanan Pekabaran Injil: Merupakan bagian dari Misi Gereja / Tubuh Kristus di dalam dunia ini.
a.       Dilakukan secara:
-          Pribadi. Jemaat GIII, sesuai dengan taraf pertumbuhan dan perkembangannya diwajibkan untuk mengabarkan Injil kepada sesama /orang-orang di sekitar mereka yang belum mengenal Kristus, dengan tetap memperhatikan kebebasan pribadi orang lain untuk menentukan keputusannya.
-          Kelompok. Jemaat dapat membentuk kelompok-kelompok Pekabar Injil, yang terlibat aktif dalam Pekabaran Injil bersama dengan tetap memperhatikan kebebasan orang lain untuk memilih dan mengambil keputusannya.
b.       Sarana Penginjilan
-          Media Tulis : buku-buku kesaksian, Traktat-traktat,
-          Media Elektronik : rekaman khotbah, Internet, Radio, TV.
-          Kegiatan lainnya yang tidak bertentangan dengan Alkitab.


Pasal 3
Tugas Gereja Diakonia dan Pelayanan Sosial

1.       Di dalam memenuhi panggilan Gereja dalam pelayanan meja (diakonia) maka GIII terpanggil untuk melakukan pelayanan diakonia sebagai bukti perhatian yang nyata.

2.       Pelayanan dikhususkan bagi setiap anggota GIII yang mengalami sakit, bencana alam, dan yang tidak mampu mencukupkan kebutuhan pokok hidup sebagai wujud kemurahan Allah.

3.       GIII terpanggil untuk melakukan pelayanan sosial tidak hanya di dalam GIII tetapi juga ke luar gereja dalam rangka menyatakan kasih Tuhan kepada setiap orang yang menderita sakit, bencana alam, dan yang tidak mampu mencukupkan kebutuhan pokok hidup sebagai wujud kemurahan Allah.

4.       Teknis pelaksanaan Diakonia dan Pelayanan sosial dengan menyalurkan pemberian sukarela jemaat, dan atau dengan menggunakan alokasi dana Diakonia dari kas GIII.

5.       Adapun sasaran Pelayanan Diakonia dan Sosial beserta jumlah dana bantuan ditetapkan dalam rapat Dewan Gereja.



Koinonia (Bersekutu)
Gereja sebagai Koinonia adalah tubuh Kristus. Di dalam tubuh Kristus, semua orang menjadi satu, dan satu di dalam semua oleh Kristus (1 Kor.12:26). Persekutuan koinonia itu dialaskan atas dasar Firman Allah, Baptisan dan Perjamuan Kudus. Dengan dasar itu pulalah anggota gereja saling memperdulikan dan dikumpulkan bersama dalam Perjamuan Kudus sebagai komunitas yang kudus secara nyata. Persekutuan koinonia itu bukan hanya merupakan perkumpulan begitu saja, melainkan persekutuan yang bersifat soteriologis (keselamatan). Oleh Roh Kudus, gereja bergerak dinamis menuju akhir, yaitu penggenapan Hari Tuhan (parusia).
Di dalam persekutuan Koinonia ibadah (workship) berperan merefleksikan kekudusan persekutuan. Ibadah menjadi pusat penyampaian syukur dan terima kasih kepada Tuhan Allah atas seluruh bekat yang melimpah dalam seluruh sisi kehidupan komunitas gereja, misalnya perkawinan, pekerjaan, kesehatan, peningkatan ekonomi, keberhasilan, keselamatan dari mara bahaya, dsb. Semua berkat ini tentunya meneguhkan iman yang patut kita syukuri. Oleh sebab itu, ibadah juga harus merefleksikan komitmen hidup melayani Tuhan dengan perkataan dan tindakan setiap hari.
Mutu persekutuan haruslah senantiasa dipelihara dan ditingkatkan seiring tantangan dan kecenderungan jaman (nurturing). Iman itu bukanlah sekali dan untuk seterusnya, nmun merupakan proses dalam kehidupan seluruh warga gereja sesuai kebutuhan kategori usia masing-masing; anak-anak, remaja/pemuda, dewasa dan lansia (Ef.4). Bentuk-bentuk diskusi, Penelaahan Alkitab (PA), retreat dan lain-lain, haruslah dikembangkan secara kreatif. Semua kegiatan harus bertujuan membantu warga memahami Alkitab demi pertumbuhan iman yang sehat sehingga mampu menyingkapi tantangan jaman ditengah realita kehidupan; politik, ekonomi, kekerasan, hak azasi, gender, ekologi, globalisasi dan sebagainya.
Dengan pemahaman Firman Tuhan dan penghayatan iman yang benar setiap warga sadar akan dirinya sebagai bagian integral gereja yang memiliki panggilan untuk mendukung misi gereja melalui talenta dan charisma yang dimilikinya (imamat am orang-orang percaya). Perlu kita sadari tanpa mendalami pendidikan Kristen tersebut, persekutuan gereja sebagai tubuh Kristus (koinonia) akan beralih menjadi komunitas politis (political community).
Marturia (Bersaksi)
Ibadah koinonia yang berpusat atas dasar Baptisan, Firman Tuhan dan Perjamuan Kudus bukan bertujuan hanya untuk persekutuan itu secara eksklusif tetapi harus melahirkan komitmen untuk memberitakan dan menyaksikan berita keselamatan kepada semua mahluk. Pemberitaan dan kesaksian itu harus dilakukan oleh orang percaya baik secara individu maupun sebagai persekutuan.
Kita dipanggil oleh Tuhan Yesus secara individu maupun persekutuan untuk melaksanakan misi Tuhandi bumi ini. Yesus Kristus mati di kayu salib  – kita percaya Tuhan Allah dating ke dunia ini di dalam AnakNya Yesus Kristus yang telah mati untuk menyelamatkan kita dan dunia ini. Oleh sebab itu tugas pemberitaan (marturia) itu harus dilakukan oleh persekutuan gereja baik individu maupun persekutuan masing-masing. Setiap orang sadar akan kemuridannya (discipleship) dalam perjalanan hidupnya. Sekali kita menyadari hal itu maka kita harus memiliki komitmen dan kesetiaan sebagai murid Yesus Kristus. Dengan kesadaran sedemikian persekutuan menjadi alat yang kuat untuk mengkominikasikan berita keselamatan Kristus.
Diakonia (Melayani)
Pemberitaan dan kesaksian itu tidaklah selalu dilaksanakan dengan kata-kata tetapi juga dengan perbuatan atau pelayanan diakonia. Perlu kita ingat, ada kalanya suara perbuatan lebih nyaring gaungnya dari pada perkataan. Dengan tindakan maka Injil juga dapat diberitakan dan di dengar oleh orang-orang tuli.
Barangkali di suatu konteks tertentu gereja sulit melakukan pemberitaan firman Tuhan (khotbah) karena peraturan-peraturan Negara terkait, dengan tujuan membungkam gereja akan berita keselamatan itu. Akan tetapi dengan pelayanan diakonia gereja tidak dapat dibungkam sebab persekutuan koinonia memiliki seluruh berkat dalam kehidupannya yang dapat dibagi kepada orang lain dalam nam Yesus Kristus.
Perkataan, kehidupan dan tindakan diakonia yang kita berikan kepada orang lain atas nama Tuhan Yesus Kristus adalah juga marturia. Maka dari itu, diakonia adalah bagian integral dari misi Gereja. Marturia dan diakonia adalah dua sisi dari mata uang yang sama dan merupakan misi gereja yang mendasar.
Pelayanan diakonia sering dipahami hanya sebatas konsep caritas, membantu para janda, yatim piatu, fakit miskin demi kesejahteraannya. Sebenarnya, gereja dalam pelayan diakonia harus mencakup : pelayanan diakonia mencakup upaya pemahaman akar penyebab keprihatinan social sekaligus mengembangkan prakarsa pemberdayaan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup yang layak.
Hanya dengan pemahaman pelayanan diakonia sedemikian gereja dapat berfungsi sebagai agen transformasi ditengah masyarakat sebagai pewujudan karya keselamatan Yesus Kristus. Gereja menjadi garam dan terang dunia.Amin.



VISI DAN PANGGILAN GEREJA

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiqr7XD3kpr7kX0p6tjXXXT1moRr-Zz6XQBdhO_cnDM9FE3T_bBo1AYr9OTAjtq6smUoF77F3Z9uVETdURkWcXSaWjJ-CcDazsqIf8yx-2tnagkgbH3mbSfeDbwX8VmHzEP0MRWrfRcnek/s320/images.jpg

Gereja sebagaimana kita kenal apakah dalam situasi nasional atau di persekutuan Kristen setempat terkadang sulit untuk kita dapat melihat persamaannya dengan citra Kristus, tetapi kendatipun banyak kelemahan gereja dipersiapkan untuk menjadi agung dan indah dalam setiap kesaksian dan palayanannya. Itu berarti ada komitmen orang percaya untuk sungguh-sungguh kepada persekutuan dan ada kesediaan untuk ikut menanggung penderitaan demi Injil dan demi pertumbuhan gereja itu sendiri. Visi itu akan menguatkan tekad kita untuk memberikan waktu dan milik kita, untuk mengarahkan daya dan doa, dan untuk berkarya sepanjang waktu yang Tuhan berikan. Untuk itu kita pun harus memahami ketika hendak mencapai visi itu gereja pun harus nampak dalam panggilannya. Ada 3 tugas panggilan gereja yang disebut dengan tri tugas gereja.Untuk memahami tri tugas gereja maka akan kita mulai dengan makna dari pemahaman gereja.
A. Latar Belakang dan pengertian
Kata gereja berasal dari bahasa Portugis “Igreya” dan dalam bahasa Yunani “Ekklesia” yang berarti jemaat yang dipanggil keluar dari dunia dan menjadi milik Tuhan. Pegertian gereja secara thelogis Alkitabiah ialah bahwa gereja (ekklesia) itu adalah tubuh Kristus (Ef 1:22-23) dimana Kristus adalah kepala. Gereja bukanlah kelompok manusia yang berdiri atas inisiatif sendiri,
tetapi Kristuslah yang dengan perantara Firman dan Roh mengumpulkan bagiNya jemaat itu. Gereja adalah persekutuan orang percaya yang di kumpulkan oleh Kristus. Hari Pentakosta ketika Roh Kudus di curahkan menjadi hari lahirnya gereja (Kis 2).
B. Tugas dan Panggilan gereja
Gereja yang hidup adalah gereja yang bersaksi tentang Yesus Kristus di dunia ini (band Kis 1: 8). Gereja terpanggil untuk melaksanakan amanat agung Kristus (Mat 28:16-20; Markus 16:15).
Menjadi saksi Kristus adalah tugas gereja dan warganya yang berlaku sepanjang masa dan bukan hanya bersaksi (Marturia), tapi juga bersekutu (Koinonia) dan melayani (Diakonia). Inilah yang disebut tri tugas gereja. Gereja terpanggil untuk memberitakan berita kesukaan dari Allah bagi semua orang agar percaya dan diselamatkan. Gereja harus terbuka, dinamis,dialogis pada situasi perkembangan di masyarakat dengan sikap positif,kristis,kreatif dan realistis. Gereja kelihatan sebagai gereja apabila gereja tersebut nampak sebagai satu segitiga sama sisi yang terdiri dari segi persekutuan, kesaksian dan pelayanan yang ketiganya tidak dapat dipisahkan.
1. Koinonia (bersekutu)
Koinonia berasal dari bahasa Yunani “Koinon” yaitu :
Koinonein artinya bersekutu
Koinonos artinya teman,sekutu
Koinonia artinya persekutuan.
Kata :koinonia’ baik dalam Alkitab, maupun dalam masyarakat Yunani pada waktu itu tidak terbatas pada salah satu pengertian saja, melainkan mempunyai arti yang luas sesuai dengan keadaan yang berlaku pada waktu itu dan situasi tertentu. Dalam masyarakat Yunani kata koinonia seringkali dipakai untuk mengambarkan hubungan manusia dengan ilah-ilah. Hubungan itu dibayangkan sebagai hubungan antar teman (koinonos). Koinonein berarti bergaul secara akrab dengan ilah-ilah, supaya mencapai hubungan mistik yang membawa kepada kebahagiaan yang hebat. Itulah sebabnya dalam Septuaginta (Perjanjian Lama yang diterjemahkan dari bahasa Ibrani ke dalam bahasa Yuniani) kata koinonia tidak pernah mengambarkan hubungan antara Allah dengan manusia. Didalam PL kata hamba (Ibr :ebed) dipakai,bukan teman untuk menggambarkan hubungan Allah dengan manusia. Manusia adalah hamba Allah. Allah sebagai khalik dan manusia sebagai mahluk. Namun dalam Perjanjian Baru ada perubahan : karena melalui Yesus Kristus manusia dapat dipersatukan kembali dengan Allah. Dalam Kristus, Allah
 datang dan menemui manusia.
Dalam PB kata “Koinonia” ,mempunyai beberapa pengertian :
1. Mengambil bagian bersama-sama dengan orang lain dalam sesuatu.
Lukas 5 :10 : waktu Tuhan Yesus menyuruh murid-murid menjala ikan, maka mereka melaksanakan perintah Tuhan. Mereka mendapat banyak ikan. Karena bayaknya mereka semua harus mengambil bagian dalam hal menarik jala. Disini koinonia sebagai persekutuan para pekerja. Dalam I Kor 10:16 – arti persekutuan (koinonia) adalah mengambil bagian dalam penderitaan dan kematian Yesus Kristus didalam persekutuan Perjamuan Kudus.
2.  Memberi bagian kepada seseorang
Sebagai contoh untuk memahami kononia dalam lingkup ini, Filipi 4:15 (baca) kata “mengadakan perhitungan” adalah terjemahan dari kata koinonein dalam arti memberi bagian. Paulus memberi jemaat filipi bagian dalam mengabarkan Injil,sedangkan jemaat Filipi tanpa diminta memberi Paulus bagian untuk penghidupannya. Itulah salah satu segi dari persektuan yaitu Saling memberi bagian kepada orang lain.
3.  Koinonia sebagai Persekutuan penuh (absolut)
Dalam Galatia 2:9, digambarkan bahwa paulus dan Bernabas dengan berjabatan tangan sebagai tanda persekutuan diterima secara penuh dalam persekutuan yang dijadikan oleh iman bersama kepada Kristus. Tanda hubungan erat antara kedua belah pihak, bahwa mereka bersekutu dalam Kristus.
Jadi koinonia (persekutuan) mempunyai dasar dan tujuan yang berasal dari Yesus Kristus. Dasar dan tujuan ini tidak dapat diganti dengan dasar dan tujuan yang lain.jikalau persekutuan ini menganti dasar, yang sudah diletakkan oleh dan di dalam Yesus Kristus maka persekutuan ini kehilangan hakekatnya dan secara azasi bukan persekutuan (koinonia) lagi. Koinonia adalah persekutuan jemaat di dalam Kristus, walaupun banyak anggota namun membentuk satu tubuh Kristus. Di dalam Koinonia ini kita tidak hanya sekedar bersekutu, tetapi kita mengambarkan Injil Kerajaan Allah melalui perkataan / kesaksian (Marturia) maupun perbuatan /pelayanan (Diakonia) dimana saja kita berada.
Koinonia sebagai Persekutuan Etis
Ada tiga tugas panggilan gereja di dalam kehadirannya di bumi ini, yakni Marturia, Koinonia dan Diakonia. Ketiganya saling berhubungan satu sama lain di dalam penjelasan praksisnya. Tugas yang satu menjadi sempurna tatkala berada di dalam keterkaitan dengan tugas yang lainnya, begitu juga sebaliknya. Koinonia sebagai persekutuan yang hidup harus menjalankan peran marturia dan diakonianya. Tidak kaku sebatas pada komunitas itu sendiri, dan tidak puas akan kuantitas itu sendiri. Peran penting dalam koinonia yang menyangkut pada 2 hal, yakni kuantitas dan kualitas harus berada dalam kesinergisan. Menurut Harvey Cox, peran koinonia adalah peran di dalam membangun City of Man. Gambaran Harvey Cox ini menuju kepada sebuah cita-cita yang tidak lagi sekedar persekutuan, melainkan peradaban manusia. Semuanya harus bermula dari membangun komunitas kecil di dalam persaudaraan kasih, sehingga cita-cita ke arah membangun peradaban manusia yang lebih baik dapat terwujud (this world). Inilah impian Harvey Cox tentang koinoniannya.Untuk membangun koinonia maka berarti kita harus membangun etika Kristen di dalam persekutuan tersebut. Di dalam Alkitab, etika Kristen memang selalu menyorot kepada bentuk etika komunitas atau persekutuan. Alasannya, pertama, etika Kristen selalu diberikan kepada pribadi-pribadi manusia di dalam menyesuaikan diri dengan komunitasnya, kedua etika Kristen diberikan untuk komunitas secara keseluruhan, dan ketiga etika Kristen diberikan untuk membangun komunitas tersebut. Ketika etika Kristen sudah terbangun menjadi pondasi dari persekutuan maka persaudaraan kasih yang menjadi pesan di dalam Alkitab dapat terwujud. Intinya, etika Kristen tidak hanya terpaku kepada etika personal, tapi di dalamnya ada nilai-nilai moralitas yang membangun untuk menciptakan koinonia yang ideal, bahkan dunia atau peradaban yang lebih baik sesuai impian Harvey Cox, karena nilai-nilai etis bagi Kristiani adalah nilai-nilai yang universal di dalam diri manusia sebagai mahluk sosial.
2. Marturia
Berasal dari bahasa Yunani : Marturia = kesaksian
Marturein = bersaksi

Marturein dalam Perjanjian Baru memberi arti antara lain:
1.memberi kesaksian tentang fakta atau kebenaran (Lukas 24:48 : Matius 23:31)
2. memberi kesaksian baik tentang seseorang (Lukas 4:22; Ibr 2:4)
3. membawakan khotbah untuk pekabaran Injil (Kis 23:11) disini bersaksi sebagai istilah pengutusan/pekabaran Injil.
Kita yang hidup sekarang ini memang bukanlah saksi mata dari karya penyelamatan Yesus Kristus, tetapi kitalah saksi keyakinan, sehingga kehidupan kitapun harus diwarnai dengan keyakinan itu. Dalam bentuk khotbah kita bisa memberi kesaksian tetapi lebih dari itu kehidupan kita adalah khotbah yang hidup. Allah mengutus anakNya Yesus Kristus, Kristus pun mengutus murid-muridNya kedalam dunia (Yoh 20:21), supaya kabar keselamatan (Injil) diproklamirkan. Tugas ini diberikan Allah kepada setiap orang yang percaya dengan karunia masing-masing, agar dapat diwujudkan dalam perkataan dan perbuatan.
3. Diakonia (Pelayanan)
Berasal dari bahasa Yunani : Kata kerja Diakonein = melayani
Kata benda Diakonia = pelayanan
Kata benda Diakonos = pelayan


1. Diakonein (melayani) dalam Perjanjian Baru
Pandangan Yesus terhadap pelayanan berasal dari titah di dalam PL tentang kasih terhadap sesama manusia.
Diakonein artinya : melayani di meja (selewir)
Dalam PB diakonein mempunyai arti sebenarnya melayani di meja (Lukas 17:8; Yoh 12:2).
Disekitar meja sangat terasa perbedaan tingkat antara mereka yang sementara makan yaitu “orang besar” dan mereka yang menanggalkan jubahnya atau orang yang melayani meja. Yesus merubah secara total arti melayani, karena Dia membalikkan hubungan antara melayani dan dilayani (Lukas 22:26-30). Diantara murid-muridNya yang memimpin adalah Yesus yang juga adalah diakonos (pelayan).
Arti kata diakonein sebagai melayani meja diperluas juga dengan pemahaman mengumpulkan bahan makanan, menyiapkan makanan (Kis 6:2).
Diakonein artinya :memperhambakan diri/ mengabdi
Disini artinya diperluas, Yesus menyebut dalam Matius 25:42-44 pelbagai perbuatan seperti memberi makan, minum,memberi penginapan,memberi pakaian, mengunjungi orang sakit dan orang yang berada di penjara, itu diakonein. Diakonein =pelayanan ini adalah maksud dan tujuan orang Kristen terhadap sesama manusia, sekaligus juga menggambarkan bagaimana caranya mengikut Kristus. Dari pandangan yang dasariah ini Yesus menyimpulkan sehubungan dengan sifatNya sendiri menurut Markus 19:43-45 dan matius 20:26-28, bahwa Anak Manusia tidak datang untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberi nyawaNya sebagai tebusan bagi banyak orang.
Diakonein sebagai cara hidup jemaat Kristus.
Dengan apa yang kita pahami dari bahasan diatas menjadi jelas maksud dari melayani di dalam jemaat. Setiap karunia atau kharisma menurut I Petrus 4:10 merupakan pemberian yang dipercayakan kepada setiap orang dengan maksud supaya mereka yang mendapat karunia itu memanfaatkannya dan mengunakan karunia yang Tuhan berikan untuk melayani.
Diakonein sebagai mengumpulkan persembahan/ kolekte
Pelayanan khusus yang mempunyai peranan penting di dalam kehidupan Paulus adalah pengumpulan dan penyerahan kolekte bagi orang kudus di Yeruselem.
(2 Kor 8:19). Pelayanan kasih ini adalah teladan sebagaimana orang Kristen saling memperhatikan dan saling membantu berdasarkan kasih Kristus.
Diakonein sebagai nama untuk pelayanan jabatan khusus.
Dalam I Tim 3:10,13 kata kerja Diakonein dipakai untuk nama jabatan seorang
syamas/syamaset/diaken.
2. Cara Berdiakonia antara lain :
a. Diakonia sebagai pertolongan secangkir air atas nama Yesus
Ada berbagai cara orang Kristen atau badan-badan gereja atau lembaga Kristen didalam pelayanan pada sesama. Pelayanan ini merupakaan pengaktaan kasih Kristus. (contoh bagi bahan makanan, pakaian, obat dll). Prinsip motivasinya adalah mendemonstrasikan kasih Kristus dalam perbuatan nyata. Pertolongan ini disebut dengan diakonia kharitatif. Teologia secangkir air itu penting dalam rangka diakonia jemaat tetapi itu hanya salah satu unsur saja dalam berdiakonia. Karena pemahaman diakonia itu punya pengertian yang luas. Ketaatan dan kerendahan hati gereja yang terdiri dari persekutuan orang percaya hendaknya terwujud dalam pola penatalayanan dan bukan pola tuan melainkan pola hamba, pola melayani. Yesus menghendaki pelayanan kepadaNya terwujud dalam pelayanan kepada orang-orang yang paling hina, terhadap merekalah gereja melayani.
b. Diakonia dan Pembangunan
Sisi lain diakonia adalah diakonia social yang berupa upaya untuk membangun masyarakat yang bertanggung jawab. Itu berarti menuntut keterlibatan jemaat dalam pembangunan, jadi diakonia adalah pembangunan. Diakonia berarti sikap kritis kenabian gereja untuk memulihkan dan meluruskan arah pembangunan yang keliru dan mengangkat mereka yang tersisihkan dan terlupakan dalam pembangunan. Jadi diakonia bukanlah jalan untuk mencapai sukses.Diakonia adalah pelayanan yang berjalan,berbicara, dan berbuat bersama-sama dengan mereka yang hina. Diakonia adalah belajar sambil berbuat di tengah-tengah kehinaan. Dengan ulasan diatas, kita pun harus mampu untuk memahami tugas panggilan gereja di dalam kehadirannya di dunia ini yakni Koinonia, Marturia dan Diakonia. Ketiganya saling behubungan satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan. Tugas yang satu akan menjadi sempurna ketika berada di dalam keterkaitannya dengan tugas yang lain, begitu juga sebaliknya. Kononia sebagai persekutuan yang hidup harus menjalankan peran marturia dan diakonianya. Tugas dan panggilan gereja meliputi Koinonia (persekutuan), Marturia (Kesaksian), dan Dikonia (Pelayanan)

Minggu, 23 Maret 2014

Gereja dan perkembangannya

GEREJA DALAM MASA
PERKEMBANGANYA
Dr. Ely Baene
PENDAHULUAN
Di era global ini gereja
diperhadapkan dengan adanya
dinamika zaman yang mana setiap
detik diperhadapkan dengan
perubahan,baik dalam kehidupan
social ,ekonomi,hukum,budaya,informatika
dan teknologi.Semua itu telah
diatur menurut sistemnya yang
memungkinkan akan berdampak
positif atau negatifdalam kehidupan
warga gereja yang tinggal ditengah-
tengah masyarakat yang
berkecenderungan memiliki
persoalan yang kompleks.Dalam
situasi seperti ini Gereja tak boleh
berdiam diri, dan diharapkan untuk
memberikan jawaban atas apa yang
telah dialami warganya,
Mungkinkah filosofi,Visi dan Misi
Gereja tetap eksis atau harus
mentranformasi diri?
DASAR FILOSOFIS GEREJA
Secara filosofis dapat dikenali
melalui : Arti dari Gereja itu
melalui dasar Alkitabiah baik dalam
PL maupun PB dan historisnya.
1. DALAM PERJANJIAN LAMA
Kata gereja diambil dari kata Ibrani
“Qa-hal” yang diartikan kumpulan
atau pertemuan(secara
harafiah)Kata ini dipakai dalam
Biblia Hebraica (kitab bahasa
Ibrani)sebanyak 123 kali dan
melihat konteksnya. “Qa-hal” dapat
dikenali dalam konteks: a.
Kumpulan yang
direncanakan,seperti Yakob
mengumpulkan anak-anaknya
dalam Kitab Kejadian 49:6 diartikan
perkumpulan(kata “Qa-hal”)
Seperti yang diperbuat oleh
Yerobeam waktu pulang dari
mesir,dalam I Tawarikh 12:3 yang
diartikan jemaah Israel (kata “Qa-
hal). B.Perang atau konflik . Seperti
dalam Yehezkiel 17:17 yang
diartikan kumpulan orang banyak
dan dalam I Tawarikh 13:2 yang
diartikan jemaah Israel.
C.Peredilan. seperti Yehezkiel
23:45-47 yang
diartikan :sekumpulan orang atau
kumpulan orang. D.Pertemuan
Keagamaan. Seperti  dalam I Raja-
raja 8:1 yang
diartikan :berkumpul, Dengan
demikian kata Qa-Hal semata-mata
berarti sejumlah orang yang
berkumpul dengan konteks:
kumpulan yang
direncanakan,perang/
konflik,peradilan dan pertemuan
keagamaan. Dalam konteks
sekarang diartikan : kumpulan
dalam konteks pertemuan
keagamaan; Special Christiani yang
disebut Gereja.
2. DALAM PERJANJIAN BARU
Ada dua kata yunani /Gerika yang
dipakai untuk mengenali arti Gereja
yaitu: a. Kuriakos,bentuk adjective
dari kurios (inggris :Church)yang
berarti milik Tuhan.Kata ini
dipakai 2 kali dalam PB yaitu I
Korintus 11:20 mengenahi
perjamuan Tuhan dan Wahyu 1:10
mengenahi hari Tuhan.Kata itu
kemudian mulai biasa digunakan
untuk menunjukan hal-hal yang
lainya seperti: tempat atau orang-
orang atau dinamisasi atau tanah
air yang erat sekali hubunganya
dengan kelompok orang yang
menjadi milik Tuhan. B. Ekklesia
( arti siding raknyat;gereja)kata ini
terdiri dari dua suku kata : ek :
keluar dan klesis :dipanggil
(kaleo:memanggil).Kata ini dalam
perjanjian Barusering muncul
dengan diikuti dengan kata
tambahan genetif (milik) tou Theou
(dari Allah) untuk membedakan
dalam berbagai arti.Secara literal
Ekklesia berarti siding raknyat dan
pada zaman Yunani kuno siding ini
sering digunakan seperti:Kis Ras
19:39 Ekklesia berarti siding
raknyat yang sah yang dikontruksi
oleh manusia. Atas keputusan
manusia.
Ekklesia du Deo(Ekklesia you
Theou) suatu siding raknyat yang
dikontruksi oleh Allah sehingga
yang menghipun Allah sendiri(Kis
20:28; I Kor.1:2,10:32,11;22, I
Tes.2:14 yang diartikan :jemaat
Allah) Penggunaan kata ini erat
sekali dengan umat Israel
(Kis.7:38)dan beberapa metafora
yang berbeda-beda untuk
menjelaskan arti dan fungsi gereja
yaitu:Gereja disebut Tubuh Kristus
(1 Kor.10:27, 12:17,Ef. 1:23,4:15 Kol
1:4) dimana orang dimasukan
didalamnya melalui Babtisan dan
Perjamuan Kudus. Gereja disebut
orang-orang kudus (1 Kor. 1:2),
Rumah Allah (Ibr 4:9) Kawanan
domba Allah dan Kristus (1 Pet.
5:2, Luk 12:32) Gereja memiliki
hubungan yang erat dengan Kristus
karena Kristus sendiri yang
mendirikan JemaatNya(Mat.16:18)
dan tugasnya memberikan
kesaksian tentang Dia.
Dengan demikian Gereja adalah
lembaga yang dikontruksi oleh
Allah sendiri dalam diri Yesus
Kristus yang berada ditengah-
tengah dunia untuk mengemban
funsinya sebagai tubuh
Kristus ,perkumpulan orang
kudus,Rumah Allah ,Imamat Yang
rajani dengan tugas memberikan
kesaksian tentang Kristus.
HISTORISNYA
Perkembangan gereja bergerak
mulai  gereja yang dibangun oleh
Roh Kudus pada hari pentakosta
dan menuju kepada
perkembanganya.Dalam Injil
Sonoftik (mateus, Markus,
Lukas )dan surat-surat Paulus
Nampak sekali bahwa gereja
merupakan pokok perhatian
tersendiri. Namun secara waktu
diberi peran yang sangat penting
yaitu : Antara KEBANGKITAN
KRISTUS dan MASA KEDATANGAN
YANG KE DUA.(Eskaton/Parusia)
yang telah dibangun dalam Teologia
Paulus.
KONSEP-KONSEP GEREJA
1. GEREJA PURBA
Ada tiga jabatan hirarkhi yaitu
Episkopos atau bishop , penilik
Jemaat; Presbuterios : Tua-tua
(older); Diakonos : Diaken. Dengan
fungsi dan tugasnya masing-masing
sampai menemukan pandangan
bahwa :Yesus memberikan jabatan
Petrus kepada Uskup kota Roma
dan jabatan rasul kepada para
uskup secara umum (succesio
Apostolika) dan pandangan bahwa
Uskup Roma diterima sebagai yang
paling mulia.
2. GEREJA ROMA KATOLIK
Gereja merupakan masyarakat yang
terbentuk secara Illahi yang
anggota-anggotanya terdiri dari
setiap ras dan bangsa ,semuanya
berpegang pada satu iman,
semuanya menggunakan sakramen-
sakramen yang sama sebagai
sarana kekudusan dan keselamatan
dan semua diperintah dengan
lemah lembut oleh pengganti Santo
Petrus ,wakil Kristus sang Paus
(C.B Pallen,Catolic Church
Dictionary 1925,hal 180-1)
3. GEREJA ANGLIKAN
Anglikan menjelaskan bahwa Gerja
Kristus yang kelihatan adalah
sebuah jemaat yang terdiri dari
orang-orang percaya dimana Firman
Allah yang murni dikhotbahkan
serta sakramen-sakramen
dilayankan dengan sebagaimana
mestinya sesuai dengan perintah
Kristus (Article xix of The
Thirty,Nain ,Article of The Church
of England)
4. GEREJA REFORMASI
Pengakuan Iman Westminster
menyatakan : Gereja yang am atau
Gereja universal, yang tak
kelihatan ,terdiri dari sejumlah
orang yang terpilih … Gereja yang
kelihatan yang juga am atau
universal menurut Injil terdiri dari
semua orang diseluruh dunia yang
mengakui iman yang benar
bersama dengan anak-anak
mereka..
5. GEREJA BABTIS
Pengakuan Iman Babtis dalam
tahun 1646 menyatakan
bahwa :Gereja adalah suatu
perkumpulan orang-orang kudus
yang kelihatan , yang dipanggil dan
dipisahkan dari dunia oleh Firman
Allah dan Roh Allah untuk
memberikan pengakuan iman yang
kelihatan tentang Injil setelah ia
dibabtis kedalam iman tersebut
(Artikel XCXIII) Beberapa tokoh
babtis masa kini ada yang
mengakui realitas gereja universal
dan ada yang tidak dan dikenal
dengan Gereja Independent saat ini.
6. GEREJA DI ASIA.
Menurut .H. Hadiwijono . Gereja
tidak memiliki tujuan pada dirinya
sendiri melainkan adalah
persekutuan orang-orang yang telah
dipanggil untuk menjadi sarana
berkembangnya Kerajaan Allah.
Gereja harus bertumbuh ke dalam
dengan makin bertambah-tambah
di dalam kedewasaan iman dan
pengetahuan tentang Kristus .
Keluar: Gereja harus memasyurkan
Injil kepada semua orang sebab
Injil adalah kekuatan Allah yang
menyelamatkan setiap orang yang
percaya Pemasyuran Injil itu harus
dilakukan dengan pelayanan
Firman dan pelayanan kasih dan
perbuatan.
Hadiwijono melihat bahwa di dalam
hidup sehari-hari Gereja sering
tampak sebagai lembaga belaka ;
sebagai organesasi dengan segala
kesibukanya. Kebaktian hari
minggu ,kesaksian, Penyelidikan
Alkitab,Komisi-komisi,ekolah
Minggu,Remaja,Pemuda,Wanita dan
dengan Dewan Gerejanya baik yang
setempat maupun sewilayah atau
bersifat Nasional ,regional dan
Internasional,Kesibukan-kesibukan
itu makin hari bukan makin
berkurang melainkan justru makin
bertambah.
E.G Singgih mengemukakan :
pergumulan menyeluruh gereja-
gereja di asia berada pada tahap
mencari suatu eklesiologi yang
relevan bagi asia ; contoh-contoh
Gereja di India,Korea
Selatan,Bangladesh,dst.
7. GEREJA-GEREJA YANG SEDANG
BERKEMBANG DI ERA KINI
AFRIKA UTARA (Data : OMS
Internasional) Ada lebih dari 10.000
orang non Kristen yang tinggal di
pegunungan yang bertobat ,mejadi
orang Kristen. BANGLADESH
(Data:OMS Internasional) Pada
tahun 1998 ada sekitar 28 Gereja
Talitakum di Bangladesh, pada
tahun tersebut dalam kerja sama
dengan misi OMS mereka mulai
menerapkan prinsip multiplikasi di
setiap komonitas bagi Kristus , Pada
Tahun 2008 mereka mendirikan
Gereja yang ke 1000. Jadi dalam
waktu 10 tahun telah berdiri 792
gereja. Demikian juga terjadi di
Amerika latin dan Asia Tenggara.
8. GEREJA GEREJA DI INDONESIA
Pada umumnya Gereja-gereja di
Indonesia masih mengadopsi filosofi
barat tentang hidup bergeja
yaitu :Gereja yang kuat apabila
mandiri dalam organesasi,
keuangan dan Misi
(Governmenting,Supporting,Propagating)
sehingga sudah puas apabila sudah
mencukupi kemandirian tersebut.
Dengan adanya perkembangan
politik maka gereja di Indonesia
cenderung untuk
menentukan ,model ekklesiologinya
yaitu: Gereja satelit,Gereja
Induk,Gereja Rumah,Gereja sel,
atau gereja-gereja dalam kelompok
kecil-kecil yang tersembunyi.Karena
itu Gereja-gereja di Indonesia
cenderung kepada hidup dalam
satu denominasi dan
independen ,kalau tidak pada
rumpunnya maka dianggap
menyimpang,misalnya rumpun
PGI,PII,DPI
9. MODEL GEREJA YANG
DIHARAPKAN DALAM MASA
PARUSIA
Gereja di era ini diharapkan untuk
mempersiapkan diri untuk
menhadapi masa parusia dimana
Kepala Gereja untuk menyongsong
TubuhNya yaitu Kristus
menyatakan diri untuk menjadi
Hakim.  Untuk mendapatkan model
gereja tersebut perlu kita
menelusururi model Gereja dalam
Kitab Wahy u yang mana model
gereja ini sebagai tolok ukur
kehidupan gereja di sepanjang abad
disepanjang sejarah gereja.Dalam
hal ini Ray C.Stedman dalam
bukunya Petualangan menjelajah
Perjanjian Baru membahas panjang
lebar tentang kondisi gereja
menurut Kitab Wahyu yaitu:
dengan cara bertanya : Apa yang
telah Engkau lihat (Wahyu 1) Apa
yang telah terjadi sekarang (Wahyu
2-3),Apa yang akan terjadi
kemudian(Wahyu 4-22). Karena itu
Gereja diharapkan untuk mengenali
tentang : Apa yang terjadi
sekarang? Dimana sekarang gereja
ini berada dengan cara mencermati
adanya surat yang ditujukan
kepada masing-masing jemaat
yaitu:
a. KEPADA JEMAAT DI EFESUS
Jemaat ini secara lahiriah sukses
tetapi mulai kehilangan kasihnya
yang mula-mula- motivasi
pendorong yang begitu dibutuhkan
bagi efektifitas didalam kehidupan
Kristen.Ketika kita memerhatikan
surat ini dari sudut pandang
sejarah gereja ,kita dapat melihat
bahwa banyak jemaat mulai
kehilangan kasih mereka yang
semula, selama periode tepat
setelah kematian para rasul.
Periode Efesus didalam sejarah
gereja ini meliputi tahun-tahun
setelah 70 M ketika Bait Allah di
Yerusalem dihancurkan hingga
sekitar tahun 160 M selama itu
ratusan gereja secara harafiah telah
meninggalkan pelayanan mereka
yang hangat dan penuh
belaskasihan kepada dunia dan
beralih kepada agama yang
institusional yang formal dan tanpa
kasih,gereja menjadi dikuasai oleh
konflik dan perdebatan-perdebatan
theologies.
Dengan adanya nubuatan itu
bersifat progresifitas ,walaupun
sudah tergenapi maka nubuat itu
masih berlaku pada zaman yang
berikutnya maka dari itu apakah
gereja dimana kita berada masih
berada dalam masa berdebat terus
dalam theologies dan sampai kapan
it uterus terjadi dan dampaknya
kasih yang sebenarnya hidup dalam
gereja menjadi pudar,gereja yang
memilki kasih semu.
b. KEPADA JEMAAT DI SMIRNA
Kata Smirna berasal dari kata
dasar “mur” yaitu suatu rempah
harum atau wewangian yang
diperoleh ketika kulit muda pohon
mur yang sedang berbunga ditusuk
atau dihancurkan.Nama itu
memang cocok dengan jemaat
smirna abad pertama,yang
menebarkan keharuman Kristus
diseluruh wilayah itu karena
yemaat itu kerap dianiaya. Secara
historis jemaat smirna ini mewakili
periode yang disebut Zaman martir
yang berlangsung dari sekitar 160
M hingga munculnya tokoh yang
disebut sebagai kaisar Kristen
pertama ,Konstantinus yang
Agung ,pada tahun 324 M. Periode
ini disebut Zaman Martir karena ini
bukanlah satu-satunya masa di
dalam sejarah ketika banyak orang
Kristen menjadi martir.
Dengan adanya perkembangan
politik yang terjadi di era ini
khusus bagi Negara-negara yang
anti dengan kekristenan sudah
pasti orang yang sudah percaya
kepada Tuhan Yesus banyak sekali
mengalami penganiayaan , siapkah
kita jadi martir.
c. KEPADA JEMAAT DI
PERGAMUS
Kata pergamus berarti “telah
menikah” Gereja ini telah menikahi
dunia dan jemaat ini sedang
berusaha untuk hidup bersama
dengan system dunia yang tidak
bertuhan. Semua sikap dan system
nilai dunia yang tidak percaya itu
telah merembes kedalam proses-
proses gereja . Tahap pergamus
dalam sejarah gereja adalah periode
waktu diantara kenaikan
Konstantinus yang Agung keatas
takhta pada tahun 324 M hingga
abad ke 6 , ketika era Paus
dimulai. Inilah masa perkawinan
pertama antara gereja dan Negara.
Ketika konstantinus menjadikan
agama Kristen sebagai agama resmi
Kekaisaran Romawi.Dalam periode
sejarah ini , gereja sedang
menikmati popularitas yang cukup
besar. Gereja tidak lagi dipandang
sebagai sebuah keluarga iman,
tetapi sebagai sebuah kerajaan
duniawi yang formal ,kurang lebih
mirip dengan kerajaan-kerajaan
lain. Saat pengaruh politik gereja
menguat ,pengaruh rohaninya
melemah.
Dengan demikian dalam
perkembangan gereja diharapkan
mengenali tentang bahaya-bahaya
serkularisme yang telah menyusup
di dalam sendi8 kehidupan gereja
agar tak lagi mengawinkan dengan
system yang ada dalam dunia
sehingga menjadikan tergesernya
jati diri gereja.
d. JEMAAT DI TIATIRA
Jemaat ini sedang melalui sebuah
periode perzinahan rohani dan
telah kehilangan kemurniannya,dan
perlu memurnikan dirinya , supaya
jangan Tuhan sendiri yang
memurnikannya melalui proses
disiplin yang menyakitkan.Jemaat
ini adalah jemaat yang paling
bobrok diantara ketujuh jemaat
tersebut dan menjadi symbol suatu
periode yang paling gelap dan
bobrok di dalam sejarah Kristen
dan merupakan abad kegelapan.
Periode ini dialami ketika gereja
kehilangan semangat dan
kemurniannya ketika gereja
disusupi oleh takhayul dan
kekafiran . Abad Kegelapan
berlangsung dari abad ke tujuh
hingga ke enam belas ,ketika
reformasi dimulai.
e. JEMAAT DI SARDIS
Jemaat ini telah mememukan
kembali kebenaran ,tetapi tidak
punya kemampuan untuk bertahan
hidup.Jemaat itu telah membangun
reputasi yang baik,tetapi keadaan
di dalamnya benar-benar mati dan
bobrok.Kini kita akan menyebut
orang Kristen di Sardis sebagai
orang-orang Kristen yang nominal
(kata nominal berasal dari akar
kata *nama* ) berarti orang-orang
Kristen di sardis hanyalah orang-
orang Kristen yang hanyalah
namanya Kristen . Dalam hal ini
Yesus memberitahu mereka :Kamu
mempunyai reputasi , dikenal
sebagai gereja yang hidup,tetapi
kamu mati . Kelihatanya jemaat
sardis sebagaian besar terdiri dari
orang-orang yang secara lahiriah
mengakui Kristus tetapi tidak
mempunyai kehidupan rohani yang
nyata . Inilah gambaran tentang
periode Reformasi dari abad ke
enam belas sampai ke delapan
belas.Walaupun gereja-gereja
Reformasi mulai dengan api
semangat yang berkobar ,kobaran
itu segera padam karena abu putih
dari suatu ortodoksi yang mati.
f. JEMAAT DI FILADELFIA
Jemaat ini adalah jemaat yang luar
biasa. Tuhan tidak memberikan
kritik apapun mengenahi jemaat
ini. Dia memuji jemaat Filadelfia
karena jemaat ini taat dan setia
kepada firman. Jemaat ini hanya
memiliki sedikit kekuatan .
kataNya yaitu kekuatan batiniah
yang tenang dari Roh Kudus yang
dikontraskan dengan kuasa
struktur politik dunia yang begitu
mencolok. Jemaat ini
melambangkan gereja di abad ke
Sembilan belas , era kebangunan
Injili yang besar , ketika Gereja
Kristen tidak terlalu
berkonsentrasi pada usaha
menghimpun kekuasaan politik
dan lebih berkonsentrasi untuk
mentaati kekuatan batiniahnya
yaitu Roh Kudus. Gereja di era ini
dipacu untuk bertindak dan
menjangkau ujung-ujung bumi yang
terpencil di dalam gerakan
misionaris yang besar.
g. JEMAAT DI LAODOKIA
Jemaat ini jemaat yang kaya, dan
berkata : Kami sama sekali tidak
membutuhkan apapun dari
Allah,Kami sudah mempunyai
uang , pengaruh, kuasa itu yang
kami butuhkan . Allah berfirman :
Kalian orang-orang yang bodoh dan
buta , tidak tahukah kalian bahwa
tidak mempunyai apa-apa , kalian
merana dan miskin patut dikasihani
dan buta? Belilah dariKu emas yang
telah dimurnikan oleh api .
Tuhan menggambarkan diriNya
sedang berdiri di depan pintu
gereja , mengetuk pintu dan
menunggu untuk dipersilahkan
masuk , Kalian tidak dingin dan
tidak juga panas firman Tuhan.
Orang-orang Laodokia tidak seperti
jemaat sardis yang begitu dingin
seperti mayat namun mereka juga
tidak seperti jemaat filadelfia yang
panas , hidup dan vital, mereka
hanya suam-suam kuku.
Masing-masing ke tujuh jemaat di
kitab Wahyu ini mewakili suatu
masa yang spisifik di dalam sejarah
gereja dan ketika kita menengok
kebelakang kepada perjalanan
sejarah gereja selama dua puluh
abad kita dapat melihat betapa
akuratnya setiap symbol nubuatan
ini seperti yang dengan jelas
diteguhkan oleh sejarah dan
nubuat. Laodokia melambangkan
Gereja zaman akhir …Zaman kita.
Dan faktanya kita hidup di zaman
Laodokia dimana gereja
menganggap dirinya kaya padahal
sebenarnya miskin,ketika gereja
menjadi suam , tidak panas
ataupun dingin.
Dengan menelusuri perkembangan
gereja ,kita diajak untuk memberi
respon, guna untuk mempersiapkan
diri untuk mengambil keputusan
dalam mempersiapkan diri menanti
kedatangan Kristus sebagai
Gembala Yang Agung dan kepala
gereja disegala zaman.
Gereja diajak untuk menjadi umat
pemenang dan berjuang untuk
menang sebab : BARANG SIAPA
MENANG , IA AKAN KUDUDUKAN
BERSAMA-SAMA DENGAN AKU
DIATAS TAHTAKU SEBAGAIMANA
AKUPUN TELAH MENANG DAN
DUDUK BERSAMA-SAMA DENGAN
BAPAKU DIATAS TAKHTANYA
(WAHYU 3 :23) Untuk itu marilah
kita setia sampai akhir dan kuat
sampai akhir dalam situasi maupun
kondisi apapun.Amin
DAFTAR PUSTAKA
.Dieter Bocker Theologi 1991
Pedoman Dogmatika,Jakarta BPK
Gunung Mulia
.Ryire Charles C 1992 Theologi
Dasar ,Yogyakarta, Yayasan Andi
.Joseph a Fitzmyer 1989 Paul and
His Theology New  Jersey 07632
Rich Warren ,The Purpuse Driven
Chrurh ,malang Gandum Mas
Mawent MT 2008 Perjanjian Lama
dan Theologi
Kontektualisasi.Jakarta, BPK
Gunung Mulia
Vine 1981, Expository Dictionary of
Old and New Testament Words
New jersey
Rey C Stedman, 2009 Petualangan
Menjelajah Perjanjian Baru,Jakarta,
PT Duta Harapan